Rabu, 26 Oktober 2016

Perancah Bekisting Yang Dipasang Miring


bekisting1


Semuanya berawal dari foto ini, yang diunggah di sebuah facebook page, tentang keresahan seseorang melihat perancah-perancah bekisting yang disusun seperti gambar di atas. Dari foto itu terlihat di beberap titik tertentu, ujung-ujung bawah perancah diposisikan di satu titik. Pertanyaannya adalah, kenapa dibuat seperti itu? Ada yang pro, ada yang kontra.
Menurut DTS gimana? Kita simak pelan-pelan aja yuks.
Fungsi Perancah
Perancah berfungsi buat menyokong (men-support) bekisting/begisting/formwork – khususnya bekisting kayu/papan/multiplek. Kenapa? Karena waktu dicor, dalam keadaan masih encer, beton belum punya kekuatan sama sekali. Beton encer akan menjadi beban buat bekisting kayu, dan bekisting kayu ngga punya kekuatan yang cukup. Kalo ngga pake perancah, bekisting tentu bisa jebol dan ambruk.
Oleh sebab itu, bekisting perlu disokong penuh di bagian bawahnya agar tidak ambruk.
Jenis Perancah
Ada 2 jenis penyokong atau perancah bekisting, salah satunya adalah tipe konvensional yang terbuat dari material kayu (dolken, bambu, dll). Satu lagi adalah tipe modern. Tipe ini umumnya terbuat dari material logam (besi/aluminium, dll) bahkan ada dari polimer, dan bentuknya bermacam-macam. Untuk tipe modern, karena merupakan hasil inovasi manusia, tentu sudah diperhitungkan dengan baik, sehingga bisa diperoleh struktur perancah yang optimum.
Sementara tipe konvensional, hanya sedikit yang melakukan analisis, salah satu alasannya adalah ukuran penampang kayu yang dipakai sangat bervariasi. Jadi, konfigurasi yang dipakai untuk perancah kayu sebagian besar hanya didasarkan pada trial-error experiences & common practices saja, yang pada akhirnya disepakati dalam beberapa aturan tanpa penelitian, misalnya:
  • umur batang kayu harus sekian,
  • diameter dolken minimal sekian,
  • jarak antar perancah maksimal 70-80 cm misalnya,
  • kelurusan batang juga cukup diverifikasi secara manual,
  • dll.
image

Konfigurasi Perancah Konvensional
Perancah pada dasarnya disusun dalam posisi tegak vertikal sejajar kolom, karena memang fungsinya menahan beban ke arah bawah.
image
Semakin banyak jumlah perancah, semakin rapat jarak-jaraknya, semakin aman bekisting di atasnya. Tapi tentu ada batas-batas yang perlu diperhatikan, misalnya:
  • Jarak antar perancah jangan terlalu sempit agar orang masih bisa lalu-lalang di bawahnya
  • Jangan juga terlalu lebar, karena bekistingnya juga punya batas bentangan tertentu agar bisa kuat menahan cor beton.
Beban Yang Bekerja Pada Bekisting
Nah, sekarang mulai masuk ke bagian serius. Beban pada bekisting (khususnya bekisting slab & balok) itu ngga banyak, bisa ditaksir. Di situ ada berat beton cor, dan beban pekerja. Semua beban itu bekerja searah gravitasi (vertikal ke bawah). Pertanyaannya, apakah ada beban lateral/horzontalnya?
Kalo mau merujuk ke Code & Standard, susah nemu jawabannya. Tapi di buku teks ada (sayang sekali admin lupa judulnya Sad smile).
Jawabannya: ADA.
Memang ada beban horizontal yang bekerja pada saat beton di cor, khususnya untuk beton yang dicor pake ready mix. Tolong di-highlight… hanya untuk beton ready mix.
Waktu beton ready mix dituang, ada daya dorong ke samping yang berasal dari beton cair yang jatuh itu. Itu yang dominan. Selebihnya ngga terlalu besar, misalnya gerakan pekerja mendorong concrete-pump, dll.
bekisting_coratap 
bekisting_coratap2
Beban horizontalnya memang ngga terlalu besar dibandingkan beban ke bawah. Tapi bisa berpengaruh ke struktur perancah.
Stabilitas Struktur Perancah
Kalau kita modelkan struktur perancah, sebenarnya struktur itu bukan struktur yang stabil, karena kedua ujungnya termasuk ujung-ujung sendi – bisa berotasi dengan bebas. Ada dorongan sedikit ke samping, struktur itu bisa ambruk dengan sukses.
image
Lalu? Apa yang membuat struktur itu stabil?
Kolom beton yang sudah dicor duluan. Itu yang membuat bekisting dan perancahnya bisa berdiri dengan nyaman di sana.
image
Jadi, beban horizontal yang disebutkan sebelumnya, bisa ditahan oleh kekakuan kolom. Tapi, ada satu masalah lagi… umur kolomnya kan masih muda… ngga lebih dari 7 hari misalnya. Yakin, dia kuat?
Ada yang yakin, ada yang ngga. Kalo ditanya kuat atau ngga, jelas itu kuat. Ada besi-besi tulangannya. Yang perlu dikhawatirkan adalah beton kolomnya sendiri, dengan umur segitu mungkin dia masih  rapuh, momen retaknya masih sangat kecil. Ada dorongan sedikit di atas, dikalikan tinggi kolom, menghasilkan momen lentur di ujung bawah kolom. Ada momen, ada tegangan. Kalo tegangannya lebih besar daripada tegangan retak, kemungkinan besar kolom bisa retak dikit. Walopun dikit, tapi pengaruh ke depannya besar.
image
Mengamankan Kolom
Jadi, biar kolomnya aman, ngga terganggu dengan “dorongan-dorongan” dari atas, maka dicarilah konfigurasi alternatif untuk si perancah. Ada yang membuat semacam ikatan silang (bracing). Ini lumayan banyak ditemui.
image
Dan, tentu saja, ada yang membuat konfigurasi seperti foto paling atas. Smile 
image
Batang yang dimiringkan bisa meningkatkan kekakuan ke arah lateral dengan sangat signifikan.
Struktur Sejenis
Sebenarnya kasus di atas ngga hanya terjadi di perancah, tapi juga di struktur vertikal lainnya seperti kolom dan tiang pancang. Kalo kolom memang sangat jarang, dan itu biasanya berawal dari kebutuhan arsitektural, jarang ada konsultan perencana struktur yang minta kolom miring Open-mouthed smile.
image
Contoh bangunan yang menggunakan kolom miring. (Baruga Telkomsel Makassar)
Tapi untuk tiang pancang, cukup mudah ditemukan, terutama di bangunan pesisir pantai, lepas pantai, sungai, dll. Sebagian besar tiang pancang di sana ada yang dipasang miring. Tujuannya bukan ke strength, tapi ke stability, persis sama dengan kasus perancah di atas.
image

Penutup
Sebenarnya sangat banyak improvisasi yang dilakukan di lapangan yang hanya didasarkan olehfeeling aja. Siapa pun yang melakukan itu, sebaiknya jangan langsung di-judge “sok tau”, ngawur, amatir, dan underestimating statement lainnya. Jangan juga langsung dipuji berlebihan. Kalo mampu, lebih baik berikan dukungan secara teknis.
Gunakan kaidah ilmiah, cari tau latar bekalangnya, tujuannya, apa dugaannya, trus dianalisis, dan bandingkan hasilnya dengan dugaan sebelumnya. Kemungkinan cuma 2: hasil analisis memperkuat atau searah dengan dugaan, atau hasil analisis bertolak belakang dengan dugaan. Kalo searah, dukung terus dan mantapkan. Kalo bertolak belakang, carikan solusi. Smile
Terakhir, cuma mau share foto-foto yang admin nemu di google… Open-mouthed smile
bekisting2
bekisting3
bekisting4
bekisting5
Itu adalah foto-foto kegagalan perancah bekisting.

Rabu, 19 Oktober 2016

Balok Gelagar

Balok gelagar merupakan komponen struktur lentur yang tersusun dari beberapa elemen pelat. Balok gelagar pada dasarnya adalah balok dengan ukuran penampang melintang yang besar serta bentang yang panjang. Penampang melintang yang besar tersebut merupakan konsekuensi dari panjangnya bentang balok.
               Definisi lainnya yaitu Gelagar plat (girder plate), yaitu balok yang dibentuk dari elemen-elemen pelat untuk mencapai penataan bahan yang lebih effisien dibanding dengan yang biasa peroleh dari balok profil pabrikasi. Ada dua kegagalan yang dapat terjadi pada komponen struktur lentur profil I yang mengelami lentur. Kegagalan pertama profil akan mengalami lateral-torsional buckling  (tekuk lateral) yang diakibatkan adanya displacemen dan rotasi di tengah bentang, namun hal ini tidak mengalami perubahan bentuk. Kegagalan kedua, profil akan mengalami local buckling (tekuk lokal) pada sayap tekan dan juga pada pelat badan, sehingga mengakibatkan berubahnya bentuk profil,  hal ini diakibatkan oleh adanya rasio kelangsingan yang relatif sangat besar antara tinggi pelat badan terhadap tebalnya (h/t). Hal tersebut dapat diatasi dengan cara memasang pertambatan lateral diantara kedua tumpuannya.
       Beban yang diterima oleh girder biasanya sangat besar, sehingga jika kita menggunakan profil hasil pabrikasi (profil standar), akan menghasilkan berat sendiri yang cukup besar pula, sehingga tidak effisien. Salah satu jalan untuk mengurangi berat sendiri, yaitu dengan cara mempertinggi profil (membuat profil yang tidak standar). Namun dengan cara ini akan mengakibatkan profil menjadi langsing dan akan mengalami local buckling bagian badan profil, atau dengan kata lain bahwa profil akan berubah bentuknya.

Pelat Girder Pada Jembatan

Aplikasi balok gelagar pada dunia konstruksi pada umumnya digunakan untuk konstruksi jembatan. Pada konstruksi jembatan, gelagar digunakan pada struktur atas. Fungsi gelagar pada jembatan adalah memikul beban dari struktur yang berada di atasnya, kemudian meneruskan beban tersebut ke abutment dan diteruskan lagi ke poer. Teknologi terbaru dalam balok gelagar  adalah gelagar baja dengan system flens prategang  yaitu dengan penambahan kabel baja / strand yang letakan pada flens bagian bawah gelagar guna meningkatkan kapasitas gelagar baja dengan adanya momen balik (negatif momen) untuk mengurangi momen positif.  Penambahan kabel baja / strand pada gelagar baja komposit dapat mengurangi penggunaan baja struktur gelagar baja komposit sehingga dapat mereduksi berat sendiri baja dan mengurangi biaya konstruksi.  Pada awalnya teknologi ini dimuai dengan adanya teknologi perkuatan gelagar baja komposit dengan sistem eksternal prestressing. Dengan demikian teknologi ini gelagar baja komposit yang telah terpasang/ lama dapat ditingkatkan kapasitasnya. Akan tetapi pada beberapa kondisi perkuatan dengan sistem eksternal prestresing terdapat kelemahan yaitu dengan adanya kebutuhan eksentrisitas yang lebih untuk meningkatkan momen balik (negatif) sehingga dengan adanya eksentrisitas tersebut dapat mengurangi tinggi bebas di bawah jembatan. Untuk itu dilakukan pengkajian agar tidak mengurangi tinggi bebas dan ditemukan metode perkuatan dengan sistem gelagar 

Kamis, 13 Oktober 2016

Jembatan Timbang dan Komponennya

                    WEIGHBRIDGE                                                                                                                                    


 Jembatan timbang adalah seperangkat alat untuk menimbang kendaraan barang/truk yang dapat dipasang secara tetap atau alat yang dapat dipindah-pindahkan (portable) yang digunakan untuk mengetahui berat kendaraan beserta muatannya digunakan untuk pengawasan jalan ataupun untuk mengukur besarnya muatan pada industri, pelabuhan ataupun pertanian. Sebenarnya istilah yang benar adalah Timbangan Jembatan



  Komponen jembatan timbang

1. Pondasi 

Pondasi jembatan timbang sama seperti pondasi pada umumnya yang biasanya terdiri dari cor beton besi bertulang, stross, tiang pancang (disesuaikan kondisi kepadatan tanah).
fungsi dari pondasi ini adalah untuk tempat berdirinya loadcell yang akan menopang platform jembatan timbang. jadi untuk pondasi jembatang timbang harus diperhatikan penuh dan teliti karna sangat berpengaruh terhadap linieritas penunjukan berat pada timbangan, dan sangat sulit juga untuk maintenant apabila terjadi kesalahan dalam pembuatan pondasi.
ada 2 model untuk pondasi jembatan timbang.
         a. model atas tanah 
         b. model rata tanah 
  
2. Platform

Konstruksi platform jembatan timbang yang umum digunakan adalah menggunakan rangkaian besi UWF. untuk ukuran dan model disesuaikan dengan kapasitas maksimum yang diinginkan pengguna dan kondisi tempat lokasi.
ada beberapa model platform / konstruksi :  besi UWF, KONKRIT, semi konkrit.


3. Instrument elektronik

    a. Indicator
        Indicator adalat alat yang digunakan untuk membaca dan mengetahui berat dari beban / truck yang ditimbang, alat ini terhubung dengan sensor / loadcell. 
banyak sekali merk dan type indicator yang umum digunakan di pasaran.
contoh merk indicator yang umum digunakan :
AND, GSC, METTLER, CAS, EXCELLENT, SONIC, dll

   b. Load cell
        Loadcell atau tranduser adalah sensor tekan yang berfungsi untuk mengirim sinyal output (mv) ke indicator.
contoh loadcell yang banyak digunakan dipasaran :  Zemic, AND, KUBOTA, PT, MKcell, UScell, KELY

   c. Junction box
       junction box berfungsi untuk ajusment output dari loadcell. jadi fungsi utama komponen ini adalah untuk meratakan output loadcell ke indicator.

 
 OPTIONAL INSTRUMENT

instrument tambahan yang juga diperlukan pada jembatan timbang :
   Software weighing management sistem
  fungsi dari software ini adalah untuk mempermudah user/operator dalam menjalankan tugas penimbangan. dalam software ini semua data penimbangan akan tersimpan dan ada beberapa jenis laporan yang tersedia. selain itu juga untuk membuat/mengeluarkan tiket timbangan.

  Komputer & printer 
 Perangkat keras (hardware) 

  External display
 Display tambahan untuk monitor bagi para sopir pengguna. Display tambahan ini terhubung dengan indicator yang letaknya ada di luar rumah timbang, penunjukan berat sama dengan penunjukan berat   yang ada di indikator.

  CCTV / Kamera
 Monitoring proses penimbangan.

Rabu, 05 Oktober 2016

Ilmu Jembatan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoJMjMzU1feoInpu7pGvKi-BugMGbVnAjYtp2E4YBoFCwqqRpNips8vb9C6thW7pZCf_zHPhYxpS8dswGbEdVQXXBzjH6hYTuZpGI_UkjV8vrkPdJixigxLbURqVsvy9OvCkOP4RyCgk4/s1600/jembatan.jpg

Jembatan adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk melewatkan lalu lintas yang terputus pada kedua ujungnya akibat adanya hambatan berupa: sungai / lintasan air, lembah, jalan / jalan kereta api yang menyilang dibawahnya. Struktur bawah jembatan adalah pondasi. Suatu sistem pondasi harus dihitung untuk menjamin keamanan, kestabilan bangunan diatasnya, tidak boleh terjadi penurunan sebagian atau seluruhnya melebihi batas-batas yang diijinkan.

5 Prinsip Pemilihan Konstruksi Jembatan
  • Konstruksi Sederhana (bisa dikerjakan masyarakat) bos
  • Harga Murah (manfaatkan material lokal)
  • Kuat & Tahan Lama (mampu menerima beban lalin)
  • Perawatan Mudah & Murah (bisa dilakukan masy)
  • Stabil & Mampu Menahan Gerusan Air
Hal  Hal Yang Harus Diperhitungkan Dalam Pembuatan Pondasi
  • Berat bangunan yang harus dipikul pondasi berikut beban-beban hidup, mati serta beban-beban lain dan beban- beban yang diakibatkan gaya-gaya eksternal
  • Jenis tanah dan daya dukung tanah
  • Bahan pondasi yang tersedia atau mudah diperoleh di tempat
  • Alat dan tenaga kerja yang tersedia
  • Lokasi dan lingkungan tempat pekerjaan
  • Waktu dan biaya pekerjaan
Pemilihan Letak Jembatan
  1. Pilih Bentang Terpendek
  2. Hindari Lokasi Belokan Sungai
  3. Hindari Tinggi Abutment yang Tinggi
Bangunan Pelengkap Jembatan
1. Sayap Jembatan
Fungsi : Menahan tebing sungai dan pangkal jembatan
http://www.ilmutekniksipil.com/wp-content/uploads/2012/03/110.jpg
2. Krib
Fungsi : Mengarahkan & mengurangi hantaman air pada sayap & pangkal jembatan yang terletak di belokan sungai.
http://www.ilmutekniksipil.com/wp-content/uploads/2012/03/210.jpg
3. Oprit
Fungsi : Jalan masuk ke Jembatan & Tanjakan maksimum 12%
http://www.ilmutekniksipil.com/wp-content/uploads/2012/03/38.jpg
Jenis Konstruksi & Batasan Jembatan yang “Biasa” atau“Disarankan” di PPK :
  • Berat bangunan yang harus dipikul pondasi berikut beban-beban hidup, mati serta beban-beban lain dan beban- beban yang diakibatkan gaya-gaya eksternal
  • Jenis tanah dan daya dukung tanah
  • Bahan pondasi yang tersedia atau mudah diperoleh di tempat
  • Alat dan tenaga kerja yang tersedia
  • Lokasi dan lingkungan tempat pekerjaan
  • Waktu dan biaya pekerjaan
Catatan : Jembatan dengan jenis konstruksi khusus & panjang bentang diluar keempat jenis diatas, perlu persetujuan dari KMT.
Ada beberapa jenis konstruksi yaitu :
1. Jembatan Gelagar Besi Lantai Kayu
Kelebihan :
  • Harga Murah (jika ada kayu di desa setempat)
  • Konstruksi Sederhana
  • Kekuatan Gelagar (besi) Terjamin
  • Perawatan Mudah & Murah
  • 5.Gelagar Besi Awet (jika terlindung dari karat)
Kekurangan :
  • Kayu Lantai Sering Lapuk (apalagi kualitas kayu rendah)
  • Kenyamanan Lalu Lintas Kurang
2. Jembatan Beton Bertulang
Kelebihan :
  • Awet (tidak mengenal istilah lapuk seperti kayu)
  • “Relatif” Tidak Perlu Perawatan
  • Nyaman bagi Lalu Lintas
  • Harga murah jika dikaitkan dengan umur pakai/manfaat yang panjang krn kualitas baik
Kekurangan :
  • Harga Mahal jika kualitas jelek shg umur pakai pendek
  • Konstruksi Lebih Rumit
  • Perlu Pengawasan Ketat untuk Menjamin Kualitas Beton
  • Pondasi Perlu Lebih Kuat (beban konstruksi lebih berat)
  • Lebih Sulit dalam Perbaikan, jika ada kerusakan
  • Kesalahan dalam “pengecoran” Sulit Diperbaiki
3. Jembatan Gantung
Kelebihan :
  • Bentang Cukup Panjang
  • Harga Murah
  • Konstruksi Sederhana
  • Pelaksanaan Mudah
  • Kabel Baja “Awet”
  • Tidak Ada Pekerjaan “Pondasi di Air atau Pilar”
Kekurangan :
  • Kayu Lantai Mudah Lapuk (apalagi jika kualitas kayu rendah)
  • Hanya bisa untuk Kend Roda 2 (untuk bisa kend roda 4 harus ada perhitungan yang rumit)
  • Kurang Nyaman (kondisi yang bergoyang)
4. Jembatan Gelagar & Lantai Kayu
Kelebihan :
  • Harga Murah (apalagi jika ada kayu di desa setempat)
  • Konstruksi Sederhana
  • Pelaksanaan Mudah
  • Pemeliharaan Cukup Mudah
Kekurangan :
  • Kayu Kurang Awet atau Mudah Lapuk (apalagi jika kualitas kayu rendah)
  • Sedikit Kurang Nyaman bagi Lalin
Pondasi Jembatan
3 Jenis Pondasi Jembatan yang “Biasa” atau “Disarankan” di PPK :
1. Pondasi Langsung
  • Bahan pasangan batu kali atau beton bertulang
  • Cocok untuk jenis tanah yang sedang hingga keras
2. Pondasi Pancang Sederhana
  • Bahan tiang dari beton bertulang atau kayu
  • Cocok untuk jenis tanah yang lunak
3. Pondasi Sumuran
  • Bahan dari adukan beton
  • Cocok untuk jenis tanah berpasir dimana tanah keras agak dalam
http://www.ilmutekniksipil.com/wp-content/uploads/2012/03/46.jpg
Penjangkaran Tanah (Ground Anchor)
Metode pemboran ini dilakukan di dalam tanah pondasi yang baik terdiri dari lapisan berpasir, lapisan kerikil, lapisan berbutir halus ataupun batuan yang lapuk, serta suatu bagian yang menahan gaya tarik seperti campuran semen dengan kabel baja atau semen dengan batang baja dimasukkan ke dalam lubang hasil pemboran tersebut, kemudian disertai suatu gaya tarik setelahnya untuk memperkuat konstruksinya.
1. Tipe Jangkar
  • Penjengkaran dengan tahanan geser
  • Penjangkaran dengan plat pemikul
  • Penjangkaran gabungan
2. Metode Penjangkaran
  • Metode penjangkaran dengan grouting
  • Metode penjangkaran dengan lubang bertekanan (jangkar PS)
  • Metode penjangkaran dengan penekanan (jangkar baji)
  • Metode penjangkaran plat
  • Metode jangkar UAC
3. Metode Penjangkaran Prategang Pratekan dengan Grouting
  • 3 Bagian Penting Penjangka- Anchorage- Free stressing (unbonded) length- Bond length
  • Grouting
  • Material Tendon
  • Spacers & Centralizers
http://www.ilmutekniksipil.com/wp-content/uploads/2012/03/121.jpg
Jenis Pilar Tipikal
http://www.ilmutekniksipil.com/wp-content/uploads/2012/03/131.jpg
Jenis Pilar Tipikal
http://www.ilmutekniksipil.com/wp-content/uploads/2012/03/141.jpg
Bentuk Pilar Lain
Toleransi
1. Denah
  • Abutmen atau pilar (diukur dari garis perletakan) 2.0 cm
  • Baut angker bila telah digrouting 0.5 cm
2. Posisi akhir pusat ke pusat perletakan
  • Panjang bentang 1.0 cm
  • Jarak melintang dari perletakan – perletakan 0.5 cm pada tiap abutmet atau pilar
3. Elevasi Permukaan
  • Permukaan abutment atau pilar + 2.0 cm
  • Permukaan atas balok landasan balok + 0.5 cm
4. Penahan Horizontal
  • Titik pusat perletakan sampai ke permukaan dinding 0 + 0.5 cm
5. Perletakan
  • Elevasi / Permukaan + 0.5 cm
  • Lokasi 2.0 cm