Rabu, 31 Agustus 2016

jenis - jenis semen

Pada kesempatan kali ini admin akan membagikanJenis-jenis Semen dan Fungsinya. Semen memiliki beberapa jenis dan setiap jenis mempunyai fungsinya masing-masing, berikut adalah beberapa jenis semen dan fungsinya
Jenis-jenis Semen dan Fungsinya
1. Semen Portland Type I 
Fungsi semen portland type I digunakan untuk keperluan konstruksi umum yang tidak memakai persyaratan khusus terhadap panas hidrasi dan kekuatan tekan awal. Cocok dipakai pada tanah dan air yang mengandung sulfat 0, 0% – 0, 10 % dan dapat digunakan untuk bangunan rumah pemukiman, gedung-gedung bertingkat, perkerasan jalan, struktur rel, dan lain-lain.

2. Semen PortLand type II
Fungsi semen portland type II digunakan untuk konstruksi bangunan dari beton massa yang memerlukan ketahanan sulfat ( Pada lokasi tanah dan air yang mengandung sulfat antara 0, 10 – 0, 20 % ) dan panas hidrasi sedang, misalnya bangunan dipinggir laut, bangunan dibekas tanah rawa, saluran irigasi, beton massa untuk dam-dam dan landasan jembatan.

3. Semen Portland type III
Fungsi semen portland type III digunakan untuk konstruksi bangunan yang memerlukan kekuatan tekan awal tinggi pada fase permulaan setelah pengikatan terjadi, misalnya untuk pembuatan jalan beton, bangunan-bangunan tingkat tinggi, bangunan-bangunan dalam air yang tidak memerlukan ketahanan terhadap serangan sulfat.

4. Semen Portland type IV
Fungsi Semen Portland type IV digunakan untuk keperluan konstruksi yang memerlukan jumlah dan kenaikan panas harus diminimalkan. Oleh karena itu semen jenis ini akan memperoleh tingkat kuat beton dengan lebih lambat ketimbang Portland tipe I. Tipe semen seperti ini digunakan untuk struktur beton masif seperti dam gravitasi besar yang mana kenaikan temperatur akibat panas yang dihasilkan selama proses curing merupakan faktor kritis.

5. Semen Portland type V
Fungsi semen portland type V dipakai untuk konstruksi bangunan-bangunan pada tanah/ air yang mengandung sulfat melebihi 0, 20 % dan sangat cocok untuk instalasi pengolahan limbah pabrik, konstruksi dalam air, jembatan, terowongan, pelabuhan, dan pembangkit tenaga nuklir.

6. Super Masonry Cement
Semen ini dapat digunakan untuk konstruksi perumahan gedung, jalan dan irigasi yang struktur betonnya maksimal K 225. Dapat juga digunakan untuk bahan baku pembuatan genteng beton, hollow brick, Paving Block, tegel dan bahan bangunan lainnya.

7. Oil Well Cement, Class G-HSR (High Sulfate Resistance)
Merupakan semen Khusus yang digunakan untuk pembuatan sumur minyak bumi dan gas alam dengan konstruksi sumur minyak bawah permukaan laut dan bumi, OWC yang telah diproduksi adalah class G, HSR ( High Sulfat Resistance) disebut juga sebagai ” BASIC OWC” . adaptif dapat ditambahkan untuk pemakaian pada berbagai kedalaman dan temperatur.

8. Portland Composite Cement (PCC)
Semen memnuhi persyratan mutu portland COmposite Cement SNI 15-7064-2004. Dapat digunakan secara luas untuk konstruksi umum pada semua beton. Struktur bangunan bertingkat, struktur jembatan, struktur jalan beton, bahan bangunan, beton pra tekan dan pra cetak, pasangan bata, Plesteran dan acian, panel beton, paving block, hollow brick, batako, genteng, potongan ubin, lebih mudah dikerjakan, suhu beton lebih rendah sehingga tidak mudah retak, lebih tahan terhadap sulfat, lebih kedap air dan permukaan acian lebih halus.

9. Super ” Portland Pozzolan Cement” (PPC)
Semen yang memenuhi persyaratan mutu semen Portland Pozzoland SNI 15-0302-2004 dan ASTM C 595 M-05 s. Dapat digunakan secara luas seperti :
- konstruksi beton massa ( bendungan, dam dan irigasi)
- Konstruksi Beton yang memerlukan ketahanan terhadap serangan sulfat ( Bangunan tepi pantai, tanah rawa) .
- Bangunan / instalasi yang memerlukan kekedapan yang lebih tinggi.
- Pekerjaan pasangan dan plesteran.

Rabu, 24 Agustus 2016

Metode Pemancangan Beton Tiang Pancang

Metode Pemancangan Beton Tiang Pancang

Berikut ini akan dijelaskan mengenai Metode Pemancangan Beton Tiang pancang menggunakan alat pancang hidrolik, yaitu sebagai berikut :
  1. Penyiapan lahan area kerja yang cukup guna penampatan alat berat juga area manuver alat.
  2. Penyiapan lahan untuk penempatan material (tiang pancang) pada posisi yang strategis guna memudahkan dalam pengerjaannya.
  3. Pada masing masing tiang pancang diberi identitas dan diberi meteran per satu meter.
  4. Penyiapan alat-alat kerja pendukung lainnya.
  5. Melakukan pengukuran :
    • Pengukuran dilakukan oleh Pemborong dengan disaksikan dan disahkan oleh Direksi/MK.
    • Kedudukan/posisi dari masing-masing tiang pancang harus ditandai dengan patok bergaris tengah 80 mm dengan panjang 300 mm yang ditancapkan didalam tanah.
    • Bagian atas patok sepanjang 150 mm harus dicat dengan warna yang menyolok.
    • Sebelum mulai jacking, tiang yang akan dijacking harus dicheck dan berada dalam keadaan/posisi vertikal.
    • Penyambungan tiap bagian tiang dengan las harus dilakukan secermat mungkin dan benar, sehingga tidak ada celah/lubang pada sambungan las tersebut.
    • Semua tiang pancang harus mempunyai nomor referensi, tanggal cor, panjang dan lain lainnya dengan aturan sebagai bcrikut :
      • Setiap tiang pancang bagian I diberi tanda pada interval 50 Cm.
      • Setiap tiang pancang bagian II diberi tanda pada interval 25 Cm.
      • Setiap tiang pancang bagian III diberi tanda pada interval 10 Cm.

      Pemancangan Tiang Pancang Beton

    1. Pengujian Tiang pancang :
      • Pengujian dilakukan terhadap suatu Tiang pancang percobaan yang tidak dipakai (unused pile) sebelum dilakukan pemancangan sebenarnya (used pile).
      • Tujuan dari pengujian ini adalah untuk membuktikan kebenaran asumsi yang dipergunakan dalam penurunan dan perhitungan design load dari tiang pancang.
    2. Penyipapan informasi data teknis : Panjang tiang Pancang, Energi Hammer, Hammer, Literatur dan Referensi teknis lengkap tentang alat pemukul yang dipakai.
    3. Tahap-tahap pelaksanaan pemancangan :
      • Sebelum dilakukan pemancangan, semua tiang pancang pra-cetak harus diberikan perincian dan data secara jelas pada sisi puncak tiangnya meliputi : Nomor referensi, Panjang tiang, Tanggal pengecoran, beban Kerja
      • Sebelum dilakukan pemancangan harus diteliti terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut :
      • Pembangunan Gedung Kantor ....................................... Uraian syarat-syarat teknis pekerjaan struktur nomor : ................
      • Pada pemancangan tiang yang utuh maka pemancangan (set) maksirnum umumnya diperoleh dengan cara menggunakan alat pemukul (hammer) yang paling tepat dan paling lunak. Bila pemancangan dilakukan secara sebagian (segmental) maka ketinggian naksimum pemukulan yang diusulkan harus semaksimal mungkin konsisten dengan tegangan maksimum yang diijinkan pada beton dan massa alat pemukulnya juga harus diganti dengan yang sesuai, harus pula diperhitungkan kemungkinan adanya kehilangan energi pada sambungansambungan.
      • Bila tiang pancang segmental menemui tanah yang lembek sekali, batuan keras atau lapisan-lapisan batuan maka ketinggian pcmukulannya harus dikurangi.
      • Pemborong harus memberikan perincian tentang urutan pemancangan yang harus disusun sedemikian rupa untuk menghindari terangkatnya kembali (up Lifting) tiang pancang.
      • Bila tiang yang dipancangkan pada tanah lunak sampai kelapisan keras pendukung untuk memperoleh penumpuan ujung yang kuat (high end bearing) maka ketinggian dari semua tiang pancang yang berdekatan harus diperiksa apakah terjadi pengangkatan, bila mengalami hal tersebut.
      • Pemborong harus bertanggung jawab untuk melaksanakan semua usaha untuk memancang kembali tiang pancang yang terangkat tersebut.
      • Semua pemancangan harus dilakukan sampai mencapai kedalaman yang direncanakan dan disyaratkan, dalam pemancangan setiap titik pancang harus secara terus menerus tanpa terputus kecuali terdapat penyambungan bagian tiang pancang.
      • Dalam pemancangan perlu diperhatikan bahwa jumlah pukulan pada masing-masing tiang pancang diusahakan agar dibatasi sampai lebih kurang 2000 pukulan, apabila dalam harus dilakukan test integritas tiang (Pile Integrity test/PIT) yang bertujuan untuk mengetahui kualitas tiang pancang terpasang.
    4. Mengecek kelurusan / kemiringan sudut tiang pancang dengan menggunakan theodolit min. 2 sudut yang berbeda
    5. Siapkan kertas grafik kalendering pada tiang pancang tersebut
    6. Secara berlahan hummer diangkat keatas hingga ketinggian tertentu, kemudian hummer dilapaskan
    7. Bila tiang pancang perlu mendapat sambungan karena kedalaman pemancangan masih belum terlampaui, maka hentukan pemancangan tiang pancang hingga +/- 1 meter dari muka tanah terhadap kepala tiang pancang
    8. Melakukan sambungan dengan tiang pancang berikutnya yang mana sambungan tersebut dilas pada ujung tiang pancang dengan menggunakan mesin las yang kemudian hasil las diberi bahan anti karat maka konsultasikan dengan Konsultan Perencana untuk langkah berikutnya
    9. Axial Loading Test:
      • Axial loading test dilakukan pada setiap tiang pancang dimaksudkan untuk menentukan respon tiang pancang terhadap suatu pembebanan tekan statis. Beban tersebut bekerja secara aksial pada tiang pancang yang bersangkutan.
      • Untuk axial loading test ini kami menggunakan sistem Non Destructive Test yaitu Pile Driving Analysis (PDA) atau Shock Test dengan tujuan untuk mempersingkat waktu pengetesan, dengan ketentuan beban loading test 200 % dari Design Load.
      • Beban percobaan pada pengujian ini harus sebesar 200 % dari design load untuk suatu Proving Test, pembebanan dilakukan mengikuti prosedur “Slow maintaned Load test” dengan cyclic loading berdasar ASTM D 1143-8, sedangkan pada Preleminary Loading test pembebanan minimal sebesar 300 % design load.
      • Jumlah preleminary loading test ditetapkan 2 (dua) titik tiang percobaan, sedapat mungkin pelaksanaan pemancangan tiang uji dilakukan disebelah lobang pemboran Penyelidikan Tanah.
      • Beban maksimum yang ditumpukan pada pengujian pendahuluan ini harus 3 (tiga) kali besar Design Load, setelah itu penambahan beban dilanjutkan sampai kelongsoran (failure) teljadi.
      • Apabila telah dicapai suatu keadaan pengujian sesuai dengan rencana, maka pemancangan harus dihentikan sementara untuk memberikan kesempatan tanah kembali kepada kondisi semula. Pemancangan/Pemukulan tiang pancang dapat dilanjutkan kembali setelah selang waktu yang cukup untuk menentukan apakah telah terjadi perubahan dari keadaan semula.
    10. Lateral Loading Test :
      • Pengujian ini dilakukan untuk menentukan respon tiang terhadap pembebanan lateral.
      • Jumlah lateral loading test adalah 1 (satu) buah, sebagai percobaan digunakan used pile.
      • Untuk setiap tiang pancang yang dilakukan pengujian ini tidak boleh mengalami kegagalan struktural, untuk mengatasi kegagalan Pemborong harus memantau secara langsung hubungan antara beban dan defleksi lateral.
      • Persyaratan pelaksanaan Lateral Loading test mencakup hal-hal berikut :
        • Prosedur Pembebanan
        • Peralatan pengadaan beban
        • Prosedur dan peralatan untuk pengukuran lateral displacement
        • Laporan hasil pengujian
      • Pembebanan dilaksanakan dengan cyclic loading scsuai dengan persyaratan ASTM D 3966-81, beban percobaan ditetapkan sebesar maksimum 200 % x 5 % dari daya dukung izin vertikal tiang bor, kecuali ditentukan lain.
      • Pada bagian atas dari tiang pancang Pada tanah yang bcrada disekitar kepala tiang yang akan diuji, harus dipadatkan sampai pada “cut off level” dengan nilai CBR minimal 5 %.
      • Lateral Displacement yang diijinkan untuk pengujian ini adalah sebesar 12 mm pada beban percobaan lateral maksimum.
      • Segera setelah pengujian beban dilakukan, Pemborong harus menyerahkan laporan lengkap tentang hasil pembebanan, agar dapat dilakukan evaluasi oleh Konsultan
      • Evaluasi akan dilakukan untuk menentukan daya dukung akhir tiang pancang tersebut. Kegagalan memenuhi daya dukung tersebut menjadi tanggung jawab Pemborong.

    Kamis, 18 Agustus 2016

    RUMAH CLUSTER DALAM SOROTAN


    Sumber : www.housing-estate.com

    Pengertian perumahan cluster adalah suatu lingkungan perumahan yang dibangun berkelompok dalam satu lingkungan dengan bentuk rumah yang serasi. Secara konsep, perumahan dengan sistem cluster memiliki kesamaan dan perbedaan dengan perumahan town house.
    Sebuah perumahan cluster bisa berada di dalam suatu kawasan permukiman atau berdiri sendiri di sebuah daerah perkotaan yang menyerupai town house. Perumahan cluster dan town house memiliki kesamaan, yaitu berkelompok dalam satu lingkungan kecil; dibangun dengan tampak muka yang sama, serasi antara rumah yang satu dengan lainnya; memiliki management lingkungan yang modern dan rapi, keamanan 1 x 24 jam (menggunakan cctv), serta bernilai investasi tinggi.
    Sedangkan perbedaannya adalah: secara luasan dan unit, perumahan cluster lebih luas dan banyak hingga ratusan unit dalam satu lingkungan. Perumahan town house jumlah unitnya terbatas antara 10 unit sampai dengan 30 unit dalam satu lingkungan perumahan.
    Apa kelebihan dan kekurangan rumah cluster dibandingkan dengan rumah biasa? Istilah rumah cluster merujuk pada rumah dengan model terbuka tanpa ada pagar yang mengelilinginya dan berada di dalam komplek perumahan. Sedangkan kekhasan dari perumahan cluster adalah seluruh wilayahnya dikelilingi oleh tembok tinggi dan hanya terdapat satu gerbang.
    Hal ini memungkinkan aktifitas keluar masuk komplek tersebut hanya terdapat satu jalur dan lebih mudah dipantau.
    Target pasar rumah cluster biasanya menyasar pada masyarakat perkotaan yang sibuk. Dengan model perumahan seperti ini diharapkan penghuni dapat merasa lebih aman dan mampu bersosialisasi dengan tetangga di sekitarnya.
    Tinggal di rumah berkonsep cluster yang dibangun pengembang di sebuah kawasan permukiman yang luas cukup diminati walaupun harganya cukup mahal. Berikut adalah keuntungan tinggal di rumah cluster:
    Keamanan Maksimal
    Tingkat penerapan keamanan maksimal adalah salah satu yang ditawarkan pengembang perumahan cluster. Orang tidak leluasa keluar masuk karena adanya sistem ID Card. Hanya penghuni dan tamu yang direkomendasikan saja yang bisa masuk.
    Sosialisasi terjaga
    Karena antara satu rumah dengan rumah lainnya dalam cluster tidak berpagar membuat suasana lebih akrab. Sosialisasi antarpenghuni dengan mudah terjalin karena adanya kesamaan tingkat sosial dan ekonomi.
    Nyaman dan tertib
    Diberlakukannya sistem satu jalur jalan di dalam perumahan cluster, kendaraan yang lalu lalang di dalam komplek menjadi tertib, teratur, dan terbatas. Penghuni yang memiliki anak-anak pun leluasa menikmati waktunya di halaman yang terbuka dengan nyaman dan dalam suasana tertib.
    Indah dan asri
    Lansekap taman menjadi fasilitas utama di setiap hunian bergaya cluster. Oleh suasana indah dan asri cukup terjaga. Tamantaman dibuat sedemikian rupa dengan beraneka jenis tanaman bunga dan pohon keras sehingga menjadi fasilitas umum yang diminati.
    Fasilitas lengkap
    Pengembang besar yang membangun dengan sistem cluster tidak segan-segan menyediakan fasilita cukup lengkap sehingga bisa dinikmati penghuni. Hal ini memanjakan penghuninya karena adanya
    fasilitas beragam seperti taman bermain, jogging track, kolam renang, pusat kebugaran, dan lainnya. (HS)
    Sumber : mpi-update.com